Penerapan Strategi Pembelajaran Pengajuan Soal

Kategori Karya Guru Oleh

Penerapan Strategi Pembelajaran Pengajuan Soal ( Problem Posing ) dengan Memanfaatkan Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik dalam Menyelesaikan Masalah Segi Empat di Kelas VII Semester 2 SMPN 2 Pegandon Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2014/2015

Oleh : Nur Afita, S.Pd.
(SMP Negeri 2 Pegandon Kabupaten Kendal)

ABSTRAK
Permasalahan dalam penelitian ini adalah “ Apakah dengan strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) dengan     memanfaatkan tutor sebaya pada materi segi empat  dapat meningkatkan keterampilan mengajukan soal, serta meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) pada materi segi empat bagi peserta didik kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON KABUPATEN KENDAL dapat meningkatkan ketrampilan mengajukan soal, dan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segi empat.

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-C SMPN 2 Pegandon Kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2014 / 2015 dengan jumlah peserta didik 31 orang, yang terdiri dari 17 orang peserta didik laki – laki dan 14 orang peserta didik perempuan.

Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1) perencanaan tindakan perbaikan yang meliputi kegiatan analisis faktor penyebab dan penetapan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) pengumpulan data; dan (4) analisis dan refleksi tindakan.Serangkaian tindakan ini merupakan tindakan satu siklus. Berdasarkan observasi kelas, dan observasi guru yang dilanjutkan dengan kolaborasi bersama rekan sejawat ditemukan bahwa akar masalah rendahnya keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal dan menyelesaikan masalah adalah kurangnya keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran. Tindakan yang dilakukan untuk memecahkan masalah rendahnya kemampuan siswa kelas VII-C SMPN 2 Pegandon dalam mengajukan soal dan menyelesaikan masalah adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran pengajuan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya melalui tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. strategi pembelajaran pengajuan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya, diharapkan indikator penelitian dapat tercapai, yaitu rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 70 dan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah persegi adalah minimal 70 % ( 22 Peserta didik ) dari 31 Peserta didik kelas VII-C SMPN 2 Pegandon, juga ketuntasan belajar klasikal minimal 70. Data mengenai keefektifan tindakan dikumpulkan dari hasil lembar pengamatan kerjasama siswa, lembar observasi guru, jurnal guru, dan jurnal siswa. Validasi instrumen ditempuh melalui face validity dan refleksi kritis bersama kolaborator.

Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 68,75 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 13 peserta didik ( 41,94% ) atau mengalami peningkatan sebesar 61,5 % jika dibandingkan dengan ketuntasan peserta didik pada tes awal sebanyak 5 peserta didik ( 16,13 % ). Untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 63, 77. Pada siklus II rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 86,88 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 27 peserta didik ( 87,10% ) atau mengalami peningkatan sebesar 51,0 % jika dibandingkan dengan ketuntasan peserta didik pada tes siklus I sebanyak 13 peserta didik ( 41,94% ). Untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 77, 16.

Dari hasil penelitian siklus I dan siklus II maka dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran pengajuan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya dapat meningkatkan ketrampilan mengajukan soal, dan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segi empat. Meskipun demikian, pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II belum mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga perlu dilakukan replanning pada siklus – siklus berikutnya untuk mendapatkan temuan – temuan yang signifikan dan memberikan gambaran yang jelas terhadap perubahan diri guru sebagai peneliti dan pada diri peserta didik sebagai subyek penelitian.

Kata Kunci : Strategi pembelajaran pengajuan soal ( problem posing ), tutor sebaya

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi, ada 5 pilar belajar dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melakukan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Dari kenyataan di lapangan, dalam mengadakan pembelajaran matematika di kelas masih didominasi oleh pendekatan ekspositori dan ceramah sehingga peserta didik hanya menerima apa yang diberikan oleh gurunya. Hal tersebut kurang menunjang suasana dalam proses pembelajaran yang mengakibatkan kejenuhan dan kebosanan pada diri siswa sehingga menyebabkan banyak peserta didik tidak tertarik dan tidak berminat terhadap pelajaran matematika.

Agar hasil belajar peserta didik dapat meningkat sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka perlu memilih strategi pembelajaran yang lebih bervariasi dan tepat dengan mengikutsertakan peran aktif peserta didik dengan mengubah paradigma pembelajaran dari peserta didik sehingga obyek / sasaran pembelajaran menjadi subjek pelaku dan tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran seyogyanya mengembangkan kemampuan dasar peserta didik dan sikap positif peserta didik, sehingga proses belajar mengajar lebih menarik, menantang, efektif, dan efisien dalam suasana akrab dan menyenangkan sehingga akan membangkitkan minat dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik terhadap mata pelajaran matematika. Salah satu strategi pembelajaran yang memenuhi kriteria diatas adalah strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing).

Sampai saat ini mata pelajaran matematika masih menjadi masalah serius, hal ini dapat dilihat dari hasil belajar matematika peserta didik pada mata pelajaran matematika yang masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ). Hal ini disebabkan oleh beberapa masalah klasik, salah satu diantaranya karena strategi pembelajaran matematika yang kurang variatif dan jarang melibatkan peserta didik dalam menyelesaikan dan menemukan suatu masalah.

Proses belajar mengajar yang baik menitikberatkan pada pemberdayaan peserta didik. Hal ini berimbas pada pemilihan strategi pembelajaran bukan hanya memorisasi materi dan menjelaskan saja, bukan sekedar penekanan pada penguasaan materi yang diajarkan sehingga dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik. Proses belajar mengajar lebih menekankan pada bekerja, belajar hidup bersama dan memperoleh hasil yang maksimal.

Dalam strategi pembelajaran ini peserta didik diminta untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Peserta didik membuat soal berdasarkan informasi yang akan ditanyakan sehingga peserta didik dapat memahami soal tersebut. Misalkan guru mengajukan soal kepada peserta didik, selanjutnya peserta didik diminta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada pemecahan masalah. Contoh lain peserta didik diminta memecah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru atau peserta didik membuat soal yang sejenis seperti yang dibuat oleh guru.

Dengan pengajuan soal, peserta didik diberi kesempatan untuk menyelidiki informasi atau keterangan yang ada, peserta didik dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran baik secara mental, fisik, maupun sosial dan peserta didik didorong untuk menyelidiki rumusan soal/masalah, kemudian membicarakan dengan teman sebayanya dan mencoba menyelesaikan soal/masalah tersebut.

Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dikemukakan rumusan masalah :

  1. Apakah dengan strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) pada materi segi empat bagi peserta didik kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON KABUPATEN KENDAL dapat meningkatkan ketrampilan mengajukan soal ?
  2. Apakah dengan memanfaatkan tutor sebaya pada materi segi empat bagi peserta didik kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON KABUPATEN KENDAL dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik?

 

Cara Pemecahan Masalah
Dari permasalahan yang timbul, maka pemecahan masalah yang diajukan berupa penelitian tindakan kelas melalui strategi pembelajaran pengajuan soal ( problem posing ) dengan memanfaatkan tutor sebaya. Penelitian ini dirancang dalam 2 siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Tujuan Penelitian:

  1. untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) pada materi segi empat bagi peserta didik kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON KABUPATEN KENDAL dapat meningkatkan ketrampilan mengajukan soal.
  2. Untuk mengidentifikasi dengan memanfaatkan tutor sebaya pada materi segi empat bagi peserta didik kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON KABUPATEN KENDAL dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Manfaat Penelitian:

  1. Bagi Peserta Didik

1).Memupuk kemampuan untuk bekerjasama dan berpendapat dengan teman           kelompoknya dalam tutor sebaya.

2). Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan soal  segi empat.

  1. Bagi Guru:

1). Menambah alternatif strategi pembelajaran yang dapat  meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segi empat.
2). Meningkatkan pemahaman dan pengalaman dalam proses pembelajaran secara langsung dalam PTK untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

  1. Bagi Sekolah:

1). Dengan meningkatnya hasil belajar peserta didik, dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam menentukan arah kebijakan untuk   kemajuan  sekolah.
2). Sekolah menjadi objek dalam PTK akan memperoleh hasil pengembangan ilmu.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi   para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. entah malam hari, sore hari, atau pagi hari.  

Namun dari semua itu tidak semua orang mengetahui apa itu belajar. Seandainya dipertanyakan apa yang sedang dilakukan? Tentu saja jawabannya adalah “belajar”. Itu saja titik. Sebenarnya dari kata “belajar” itu ada pengertian yang tersimpan di dalamnya. Pengertian dari kata “belajar” itulah yang perlu diketahui dan dihayati, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru mengenai masalah belajar.

Dalam buku Psikologi Belajar yang disusun oleh Syaiful Bahri Djamarah (2002 : 12-13) disajikan beberapa pendapat dari para ahli psikologi dan pendidikan.Para ahli tersebut mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing.Tentu saja disertai dengan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

  • James O. Whittaker, misalnya, merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku
  • ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
  • Cronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of    

       experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

  • Howard L. Kingskey mengatakan bahwa learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed  through practice or traning.Belajar adalah proses dimana tingkah  laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
  • Slameto juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa balajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.

Ciri-Ciri Belajar
1. Jika hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri- ciri belajar:

  • Perubahan yang Terjadi Secara Sadar

Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya  perubahan itu     atau sekurang-kurangnya individu  merasakan  telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.

2. Perubahan dalam Belajar Bersifat Fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan  yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan  berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.

3. Perubahan dalam Belajar Bersifat Positif dan Aktif

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya.Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri.

4. Perubahan dalam Belajar Bukan Bersifat Sementara
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap   atau permanen. Ini  berarti bahwa tingkah laku yang terjadi  setelah  belajar akan bersifat menetap.

5. Perubahan dalam Belajar Bertujuan atau Terarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada   tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.

6. Perubahan Mencakup Seluruh Aspek Tingkah Laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses  belajar meliputi  perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia  akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap   kebiasaan,  ketrampilan, pengetahuan, dan sebagainya (Syaiful Bahri Djamarah, 2002 : 15-16 ).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar akan berhasil jika proses balajarnya baik dan dilakukan secara kontinu serta dikelola dengan baik. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi belajar adalah :

1). Faktor-Faktor Intern

  1. a) Faktor Fisiologis

Kondisi fisiologis umumnya sangat berpengaruh terhadap   belajarnya seseorang. Ini

dapat dilihat dari keadaan jasmani, kandungan gizi dalam tubuh serta kondisi panca

inderanya.

  1. b) Faktor Psikologis

(1) Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya  dengan  cepat.

(2) Perhatian

Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka peserta didik  harus mempunyai perhatian tehadap bahan yang  dipelajarinya. Agar siswa dapat belajar dengan baik,  usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian   dengan cara  mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan  hobi atau bakatnya.

(3)  Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk  memperhatikan    dan mengenang beberapa kegiatan.Minat  besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan    pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik, peserta didik tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.

(4)  Bakat

Bakat atau aptitude menurut Hilgard adalah : “the capacity  to learn”. Dengan perkataan lain bakat adalah kemampuan  untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi  menjadi   kecakapan yang nyata sesudah belajar atau  berlatih.

(5)  Motivasi

Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat  mendorong peserta didik agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motivasi untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/menunjang belajar.

(6)  Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.

(7)  Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

2) Faktor-Faktor Ekstern

  1. a) Faktor Keluarga

Cara orang tua mendidik, hubungan antara anggota keluarga,   suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga sangat     mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang.

 

 

  1. b) Faktor Sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

  1. c) Faktor Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh  terhadap belajar peserta didik. Pengaruh itu terjadi karena  keberadaannya peserta didik terhadap masyarakat. (Slameto, 1995 : 54 – 72 )

 

Strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing)

Model pembelajaran ini mulai dikembangkan tahun 1997  oleh Lyn. D. English, dan awal mulanya diterapkan pada mata pelajaran matematika. Selanjutnya model ini dikembangkan  pada mata-mata pelajaran lain.Pada prinsipnya model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan siswa untuk  mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem  posing adalah sebagai berikut:
1). Guru menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik.  Penggunaan alat peraga untuk   memperjelas konsep sangat   disarankan.
2). Guru memberikan latihan soal secukupnya.
3). peserta didik diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan peserta didik yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara     kelompok.
4). Pada pertemuan selanjutnya, secara acak, guru menyuruh peserta didik untuk menyajikan soal temuannya didepan kelas. Dalam hal ini guru dapat menentukan peserta didik secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh peserta didik.
5). Guru memberikan tugas rumah secara individu

Pada tahap awal, guru cukup/dapat memberikan tugas kepada peserta didik dalam model pembelajaran problem posing dengan memilih salah satu cara berikut :

a). Pre Solution Posing, yaitu jika peserta didik membuat soal   dari situasi yang diadakan, jadi guru memberikan suatu pernyataan dan peserta didik diharapkan mampu membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh gurunya.

b). Within Solution Posing, yaitu jika peserta didik mampu merumuskan ulang pertanyaan
soal menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti  yang telah diselesaikan sebelumnya dan diharapkan peserta didik mampu membuat sub-sub pertanyaan dari pertanyaan tunggal yang diberikan oleh guru.

c). Post Solution Posing, yaitu jika peserta didik mampu memodifikasi tujuan /kondisi soal yang telah dijelaskan  oleh guru untuk membuat soal-soal baru yang sejenis.

Tutor sebaya
Tutor sebaya dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan peserta didik yang memiliki daya serap tinggi, peserta didik tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temanya yang belum paham. Ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi peserta didik yang berperan sebagai tutor maupun bagi peserta didik yang diajar. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaanya dan memberikan pengarahan dan lain-lain.

Beberapa pengertian pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar. Menurut Cece wijaya, Harsumarko, Dedi supriyadi, Ischak, dan Warji, Conny Semiawan, Dinkmeyer  (dalam Erman Suherman,2003 : 276 -277)

Dalam penelitian ini pengertian tutor sebaya menurut peneliti  adalah sekelompok anak yang telah tuntas dalam pelajaran  kemudian ditunjuk dan ditugaskan membantu peserta didik /teman yang kesulitan belajar sehingga mereka bias mengembangkan kecakapan yang dimilikinya untuk diberikan  kepada teman yang belum tuntas terhadap bahan pelajaran yang  diberikan oleh guru.

Dalam penelitian ini Tutor sebaya diharapkan dapat lebih  mudah berinteraksi dengan lingkungannya, karena dengan peserta   didik  ditunjuk menjadi tutor sebaya mereka akan mempunyai  kemampuan lebih dalam bersosialisasi.

Kerangka Berpikir
Dari masalah yang ada pada peserta didik di kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON KABUPATEN KENDAL yang telah diuraikan dimuka, maka kerangka berfikir dapat dirumuskan sebagai berikut.

Dalam proses belajar akan lebih berhasil jika berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan peserta didik serta banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan untuk membangkitkan keaktifan peserta didik memerlukan strategi pembelajaran yang tepat. Melalui strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) dengan memanfaatkan tutor sebaya diharapkan dapat meningkatkan keterampilan peserta didik, meningkatkan hasil balajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segi empat, dan dapat menumbuhkan kebiasaan kerja sama dan berkomunikasi dengan teman sekelompoknya dalam tutor sebaya yang akan membangkitkan minat dan keaktifan peserta didik sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien di kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON  KABUPATEN KENDAL tahun pelajaran 2014/2015.

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
“Melalui strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing)  dengan memanfaatkan tutor sebaya di kelas VII-C semester 2 SMP NEGERI 2 PEGANDON  KABUPATEN KENDAL akan meningkatkan keterampilan mengajukan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya dan meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segi empat”.

METODE PENELITIAN
Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian adalah SMPN 2 Pegandon, Kendal, Jawa Tengah, yang berlokasi di Jalan Sunan Ampel Nomor 41 Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel, Kabupaten  Kendal. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VII-C semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 31 peserta didik, terdiri dari 17 peserta didik putra dan 14 peserta didik putri.

Penentuan subjek penelitian ini berdasarkan pertimbangan sebagai berikut : (1) penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK); (2) peneliti mengajar di kelas VII-C, sehingga memungkinkan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas; dan (3) tingkat keterampilan mengajukan soal dan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah persegi masih rendah.

Pemecahan Masalah
Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan mengajukan soal dan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segi empat, khususnya pada peserta didik kelas VII-C SMPN 2 Pegandon-Kendal, Jawa Tengah.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal, peserta didik kelas VII-C SMPN 2 Pegandon-Kendal pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015 yang dinilai sudah mampu menyelesaikan menyelesaikan masalah baru sekitar 5 peserta didik ( 16,13 % ) dari 31 peserta didik . Data ini masih jauh dari standar ketuntasan minimal,

Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat empat tahapan, yaitu : perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan tersebut disusun dalam siklus dan setiap siklus dilaksanakan sesuai perubahan yang ingin dicapai.

Data dan cara pengumpulannya
Sumber data:
Sumber data penelitian adalah peserta didik kelas VII-C semester 2 SMP  NEGERI 2 PEGANDON  KABUPATEN KENDAL, guru dan peneliti  sendiri.

  1. Jenis data

Data yang diperoleh adalah meliputi data kuantitatif dan data kualitatif   yang terdiri dari :

  1. Hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah
  2. Situasi belajar peserta didik
  3. Evaluasi pembelajaran
  4. Keterkaitan perencanaan dan pelaksanaan tindakan.
  5. Cara pengambilan data
  6. Hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah diperoleh dengan pemberian tes tertulis dalam bentuk uraian.
  7. Situasi belajar peserta didik diambil dari pengamatan
  8. Evaluasi pembelajaran diambil dari pengamatan

d.Keterkaitan perencanaan dan pelaksanaan dan tindakan diambil dari lembar pengamatan.

Teknik Analisis Data
Data dianalisis dengan menggunakan teknik tabulasi data secara kuantitatif berdasarkan hasil tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus. Hasil tindakan pada setiap siklus dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui persentase peningkatan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segiempat.

Pada setiap siklus dideskripsikan jumlah skor yang diperoleh peserta didik , jumlah nilai, rata-rata nilai, tingkat daya serap, dan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus.

Analisis Data
Pada tahap ini, peneliti menganalisis data yang diperoleh berdasarkan keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal dan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segiempat. Berdasarkan analisis data akan diketahui masalah apa saja yang masih menjadi hambatan peserta didik dalam mengajukan soal dan menyelesaikan masalah segiempat.

Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama kolaborator. Pada saat melakukan refleksi, kolaborator memberikan masukan kepada peneliti berdasarkan hasil pengamatan yang telah dicatat untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada siklus yang berikutnya.

Penelitian tidak perlu dilakukan lagi pada siklus berikutnya jika hasil analisis data menunjukkan peningkatan yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan, yaitu rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 86,88 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 27 peserta didik ( 87,10% ), dan ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 77, 16.

Indikator Keberhasilan
Dalam penelitian ini, peningkatan hasil belajar peserta didik secara optimal ditandai dengan tercapainya ketuntasan belajar tiap individu.Dengan demikian yang menjadi tolak ukur keberhasilan penelitian ini adalah :

  1. Peserta didik memperoleh nilai rata-rata minimal dalam keterampilan mengajukan soal 70 %
  2. Peserta didik memperoleh nilai tes minimal 70 dengan ketuntasan belajar 70 %.
  3. Pembelajaran melalui strategi pembelajaran problem posing dengan memanfaatkan tutor sebaya ditandai dengan ketuntasan belajar klasikal minimal 70%

Hasil Penelitian dan Pembahasan
pada siklus I menunjukkan rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 68,75 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 13 peserta didik ( 41,94% ), untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 63, 77. Hal ini berarti pembelajaran yang dilakukan belum berhasil atau masih kurang.

Secara garis besar, pelaksanaan pada siklus I kurang berhasil. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 68,75 %, belum mencapai 70 %, jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 13 peserta didik ( 41,94% ), belum mencapai 70 %, dan  untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 63, 77, belum mencapai 70 . Oleh karena itu kegiatan pada siklus I perlu diulang agar kemampuan siswa dalam mengajukan soal dan menyelesaikan masalah segiempat dapat ditingkatkan.

Pada siklus II rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 86,88 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 27 peserta didik ( 87,10% ), untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 77, 16%.

Dari hasil refleksi siklus II dihasilkan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai test siklus II (lampiran 16) terdapat 27 peserta didik yang tuntas belajar dan 4 peserta didik tidak tuntas belajar.

Jadi secara klasikal jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 77, 16 % lebih besar dari 70 % yang merupakan tolak ukur keberhasilan. Selain itu juga rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 86,88 %, Jadi dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran tidak perlu diulang karena pembelajaran sudah dikatakan berhasil.

Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi dalam siklus II ini secara keseluruhan pembelajaran dengan menerapkan strategi pembelajaran pengajuan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya berlangsung sangat baik dan kemampuan peserta didik kelas VII-C semester 2 SMPN 2 Pegandon Kabupaten Kendal dalam mengajukan soal dan menyelesaikan masalah segiempat dapat ditingkatkan.

Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan menerapkan strategi pembelajaran pengajuan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal dan meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segiempat pada peserta didik kelas VII-C SMPN 2 Pegandon Kabupaten Kendal tahun pelajaran 2014 / 2015. Hal ini dapat  ditunjukkan dari rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 68,75 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 13 peserta didik ( 41,94% ) atau mengalami peningkatan sebesar 61,5 % jika dibandingkan dengan ketuntasan peserta didik pada tes awal sebanyak 5 peserta didik ( 16,13 % ). Untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 63, 77. Pada siklus II rata-rata keterampilan peserta didik dalam mengajukan soal adalah 86,88 %. Jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 27 peserta didik ( 87,10% ) atau mengalami peningkatan sebesar 51,0 % jika dibandingkan dengan ketuntasan peserta didik pada tes siklus I sebanyak 13 peserta didik ( 41,94% ). Untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil 77, 16%.

Hal ini dikarenakan daya berfikir kreatif peserta didik lebih meningkat, peserta didik memanfaatkan waktu untuk bertanya tentang materi yang belum jelas, peserta didik telah mampu memahami konsep materi serta mampu menganalisis dan mengevaluasi soal untuk mencari penyelesaian.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Hisyam Zaini, 2002 dalam Amin Suyitno, 2006 : 7, yang mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah mengajarkan kepada orang lain, oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu peserta didik  di dalam mengajarkan materi atau penyelesaian soal kepada teman – temannya. Hasil penelitian juga didukung oleh Silver dan Cai, dalam Sri Surtini, 1996 : 49, yang mengatakan bahwa   kemampuan pembentukan soal berkorelasi positif dengan kemampuan memecahkan soal. Dengan demikian, kemampuan pembentukan soal sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika di sekolah sebagai usaha untuk meningkatkan hasil pembelajaran matematika dan dapat membantu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) dengan memanfaatkan tutor sebaya dapat meningkatkan ketrampilan  peserta didik dalam mengajukan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya dan meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam menyelesaikan masalah segiempat dikelas VII-C Semester 2 SMPN 2 Pegandon Kabupaten Kendal tahun pelajaran 2014 / 2015. Hal tersebut dapat diketahui dari:

  1. Meningkatnya nilai rata-rata minimal dalam keterampilan mengajukan soal dari 68,75 % menjadi 86,88 %
  2. Meningkatnya nilai tes peserta didik dengan ketuntasan belajar dari 41,94 % menjadi 87,10%
  3. Meningkatnya hasil pembelajaran melalui strategi pembelajaran problem posing dengan memanfaatkan tutor sebaya yang ditandai dengan ketuntasan belajar klasikal dari 63, 77 % menjadi 77,16 %.

 

Saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas pada siswa kelas VII- C Semester 2 SMPN 2 Pegandon  Kabupaten Kendal, maka saran yang dapat diberikan adalah:
Strategi pembelajaran pengajuan soal (problem posing) dengan memanfaatkan tutor sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran yang sebaiknya diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan masalah segiempat dan meningkatkan  ketrampilan mengajukan soal dengan memanfaatkan tutor sebaya.

DAFTAR PUSTAKA
Darsono, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press

Erman Suherman, dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,  Jica Technical Cooperation Project For Development of Science and Mathematics Teaching For Primary and Secondary Education in Indonesia (IMSTEP). Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Slameto.1995. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka cipta.

Suharsimi Arikunto. 2002. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi  Aksara

Suryanto. 1998. Pembentukan Soal Dalam Pembelajaran Matematika. Malang : IKIP Malang

Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Tags:

Kehadiran situs ini diharapkan bisa menjadi media informasi dan interaksi bagi warga sekolah, khususnya, dan insan-insan pendidikan pada umumnya, dalam upaya mewujudkan kultur sekolah yang bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terakhir tentang

Go to Top